A Time to Kill Tjoekoeng, Mr President!

Entah karena untuk merespons tekanan publik soal bawahannya di kepolisian dan kejaksaan yang mengundang sinisme, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan program 'Ganyang Mafia Peradilan'. Sebuah program yang patut diacungi jempol bila meniati untuk menghajar habis jejaring peradilan yang suka memainkan hukum.

Harapan dan sinisme wajar saja bila tertuju pada program SBY tersebut. Ingatan dan drama tragis kasus Cicak versus Buaya-Godzila sedemikian kasat hadir di depan mata. Akankah penggayangan terhadap cukong atawa mafia peradilan sungguh-sungguh dilakukan? Atau, jangan-jangan, dan lagi-lagi, siasat Tuan Presiden untuk menyelamatkan citra diri beserta pemerintahannya? Wallahu 'alam.

Banalitas dalam Perayaan Sumpah Pemuda

Seorang kawan terheran. Hari ini (28/10) dia menjumpai banyak Merah-Putih di jalanan. Seorang teman lagi tertegun menyaksamai banyaknya kata 'pemuda' disebut dalam sajian berita di layar kaca. Butuh beberapa menit untuk membuat keduanya paham, bahwa hari ini ada sebuah hari bersejarah: Sumpah Pemuda.

Tak apalah dengan kealpaan dua teman itu, sama halnya saya tak begitu mempersoalkan Putri Indonesia 2009 yang tidak hafal susunan teks Sumpah Pemuda yang dikumandangkan 91 tahun silam. Boleh jadi lupa, atau memang kadar kebangsaannya memang memprihatinkan, kita tak bisa gegabah menilai.

Ada Menara, Maka (akan) Ada Kejatuhan Penguasa

Ada sebuah satire politik di negeri ini yang menyebutkan bahwa kejatuhan seorang penguasa bisa dilihat ada atau tidaknya pembangunan tugu, menara, patung, atau bangunan simbolik sejenis. Maka, Monumen Nasional (Monas) adalah “petanda” jatuhnya Presiden Soekarno. Demikian pula dengan pelanjutnya, Presiden Soeharto, yang gemar membangun tugu-tugu peringatan atau tempat-tempat simbolik. Barangkali, dibandingkan Soekarno, acap kalinya Soeharto merestui atau bahkan meresmikan sendiri tempat-tempat itu berbanding lurus dengan ingatan kebencian generasi setelahnya. Seolah tempat-tempat yang diresmikannya menjadi saksi sekaligus memberikan karma atas perilaku masa lalu Soeharto.

Ashabiyyah, Trust dan Komunitas Sejati ASEAN

Jauh-jauh masa sebelum Emile Durkheim menjelaskan konsep solidaritas mekanik dan organik, sejarawan-sosiolog Afrika, Ibnu Khaldun, telah memaparkan teori yang sama mengenai pergerakan masyarakat. Teori Ibnu Khaldun yang kemudian paling banyak dikenal adalah tentang ‘ashabiyyah, yakni inti organisasi sosial. ‘Ashabiyyah mengikat kelompok-kelompok menjadi satu melalui sebuah bahasa, budaya, dan peraturan. Ketika masyarakat—dalam tingkat-tingkat yang berbeda: keluarga, klan, suku, dan kerajaan atau bangsa—secara sadar berusaha mendekati perilaku yang ideal, masyarakat berfungsi secara normatif dan merupakan sebuah kesatuan (Ahmed, 2004:129).

Pemimpin di Era Media

Kriteria presiden terpilih yang ideal telah banyak dibicarakan anggota masyarakat, baik awam maupun pakar. Bersih dari korupsi-kolusi-nepotisme (KKN); tidak menjual aset bangsa kepada asing; berorientasi mempersatukan pelbagai potensi anak bangsa; bertekad menegakkan supremsi hukum; peduli pada dunia pendidikan—kriteria-kriteria ini sebagian saja dari yang lazim diidamkan masyarakat untuk dipraktikkan.

Sayangnya, deretan kriteria ini belum pernah diseriusi untuk diwujudkan. Padahal, kriteria-kriteria yang diaspirasikan pemilih ini tidak pernah berubah pada setiap pergantian kepemimpinan nasional. Meskipun jarang disebutkan secara tersurat, secara tersirat kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu kriteria bahkan agenda yang (harus) dimiliki seorang calon presiden (capres). Selama ini komunikasi menjadi aspek yang sering diabaikan para presiden kita. Komunikasi sebagai salah satu aktivitas vital manusia ternyata masih dominan berkedudukan tidak lebih sebagai komoditas.

HKI ‘Ek-Tif’ pada Bangsa Berpikir Korup

Dan kemajuan kita adalah... kemajuan penyalur & pemakai
(W.S. Rendra)

Para pelaku ekonomi kreatif (ek-tif) tak ubahnya cicak. Tanpa dibekali sayap tapi harus berburu nyamuk yang terbiasa terbang lincah. Pada awalnya berjalan sendiri, merayap tanpa panduan dan perhatian pemerintah. Suka atau tidak, mereka harus menyergap peluang banyaknya nyamuk yang beterbangan—yang bagi manusia umumnya dianggap musuh.

Seperti cicak, pelaku ek-tif dibutuhkan manusia karena memudahkan hajat hidup banyak orang. Hanya saja, kelincahan membidik ‘nyamuk’ ternyata tak selamanya berkenan bagi pihak yang berpikir korup. ‘Cicak’ pada pelaku ek-tif sama halnya ‘cicak’ yang dilekatkan seorang petinggi kepolisian kepada anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK): dikerdilkan dan dilawankan dengan kekuatan yang lebih powerfull hanya karena sang ‘cicak’ telah menebarkan ‘ancaman’.

Autis Bangsaku, (Kapan) Berjayakah Negeriku?

Indonesia adalah sebuah pinisi dengan beragam latar belakang dan karakter penumpang di dalamnya. Sebuah perjalanan menelusuri lautan peradaban menyejarah. Perjalanan yang menjumpai ombak, badai, dan juga pengkhianatan para awak kapal ataupun penumpang kapal.

Pinisi itu eksotik memesona setiap orang yang datang ke dermaga tempat berlabuhnya. Di mana pun itu. Sayang, pesona itu terus tergerusi, bukan oleh terpaan angin laut melainkan oleh badai pengkhianatan manusia di dalamnya. Para manusia di dalamnya tak bisa berlaku elok seperti pasangan flora dan fauna yang termuat dalam kapal Nuh seperti tertulis pada tarikh para nabi terdahulu.

Dari Laptop Terbitlah Jiwa Merdeka

Bukan semata karena terpengaruh oleh iklan di media cetak saya ingin memiliki Zyrex dan Byon—laptop-laptop bermerek lokal. Meski sampai saat ini saya belum memilikinya, saya masih berobsesi mewujudkannya. Berbeda dengan komentar beberapa rekan yang mengemohi kedua produk itu, saya masih tetap setia memujinya. Ini bukan soal teknis kualitas, melainkan soal subjektif: kebanggaan.

”Laptopnya tidak baguslah”; ”laptopnya begitulah, beginilah”—penilaian-penilaian beberapa rekan saya pandang tidak sepenuhnya objektif. Belum mencoba tapi sudah mengecap negatif. Walau tidak menguasai soal teknis laptop, saya sedikitnya memahami laptop mana yang bandel atau rewel. Pengalaman meminjam laptop berbagai merek milik teman-teman sudah cukup menjadi referensi.

Peran Dai dalam Membangun dan Membina ′Ukhuwwah Islâmiyyah′ bagi Kebangkitan Umat Islam Indonesia

Hatiku tidak tega kepada hamba-hambaMu
Yang seharusnya diterima, tetapi dikucilkan
Hatiku tidak tega kepada hamba-hambaMu
Yang seharusnya dijunjung, tetapi dibanting
Hatiku tidak tega kepada hamba-hambaMu
Yang seharusnya didengarkan, tetapi dibisukan
Hatiku tidak tega kepada hamba-hambaMu
Yang seharusnya dicintai, tetapi diyatimkan
(″Hatiku Tidak Tega″, Emha Ainun Nadjib)


Hampir bertepatan dengan peristiwa satu dasawarsa lalu, mulai muncul indikasi yang mengarah kepada ancaman krisis ekonomi jilid dua. Derasnya aliran dana asing yang masuk ke kawasan Asia, termasuk Asia Tenggara, pada Mei 2007, dikhawatirkan dapat menyeret ekonomi regional ke jurang kehancuran. Hal ini diakui sendiri oleh Menteri Keuangan Indonesia, ″Situasi akhir-akhir ini agak mirip dengan kondisi menjelang krisis (ekonomi 1997).″

Sejauh ini, krisis ekonomi jilid dua memang belum terjadi. Akan tetapi, fakta yang tidak bisa dimungkiri adalah menumpuknya persoalan ekonomi sekarang ini masih memiliki kaitan dengan krisis ekonomi 1997. Jumlah penduduk miskin dan tenaga kerja menganggur yang meningkat , pertumbuhan sektor riil yang masih statis—masalah-masalah seperti ini masih menjadi pekerjaan rumah yang belum teratasi pemerintah.

Membidik Baasyir

“Sekejam-kejam Fir’aun masih lebih kejam Abu Bakar Baasyir.” Komentar ini ditulis oleh seseorang yang mengomentari berita di sebuah situs media yang memuat pernyataan Abu Bakar Baasyir. Seusai membacakan doa saat penguburan dua orang yang dituduh jaringan Noordin M Top, pengasuh Pondok Pesantren Ngruki, Solo, itu menyebut almarhum sebagai pejuang, kendati dirinya mengaku tidak menyetujui cara keduanya menggunakan kekerasan.